Ada Cinta di Matematika Bagian 2

Bismillah, ku awali tulisan ini dengan bismillah, yang aku harapkan ini bermanfaat buat diri dan pembacanya.

Aku tidak tahu mau menulis apa untuk melanjutkan tulisan yang pertama yang berjudul "Ada Cinta di Matematika Bagian 1", tapi aku harus melanjutkannya.

Ketidaktahuan mau menulis apa ini seperti sedang menjawab pertanyaan matematika yang sulit, tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, seperti itu masalah yang saat ini terjadi.

Meskipun, aku tahu langkah-langkah penyelesaian terbaiknya, tapi sulit untuk dipikirkan dan dijalankan.

Tulisan ini harus segera ditulis, maka aku minta maaf jika tulisannya kurang bagus karena terpaksa harus ditulis dengan sedikit pengetahuan matematika yang ku miliki.

Apalagi jika tidak sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena yang paling penting adalah bisa atau tidak bisa dimengerti tentang maksud dari tulisan ini.

Googleboot juga belum tentu mengerti isi dari tulisan ini, hanya bisa mengenali kata kunci yang paling sering ku tuliskan hingga ia mengindeksnya sendiri.

Aku tidak menyalahkan googleboot karena ia hanya robot yang bertugas merayapi tulisan ini, tidak juga meyalahkan siapa-siapa.

Surat yang pertama belum kuberikan ke siapa pun, ku persiapkan jauh hari untuk diberikan kepada seseorang. Siapakah seseorang itu, bisa saja ia telah membacanya ataukah belum, hanya Allah yang tahu.

Walaupun ada kaitannya dengan seseorang, apakah dia yang harus menerimanya ataukah orang lain.

Anggap seseorang itu sebagai variabel yang siapapun bisa menempati posisinya, tetapi tidak semua menjadi solusi dari persamaan cinta yang kubuat.

Persamaan cinta yang kubuat terlalu rumit, bagaikan konjektur yang tidak memiliki bukti kebenaran atau tidak bisa terbantahkan.

Biarlah kuberi nama konjekturnya dengan "Konjektur Cinta", apa bunyinya tidak penting pembaca ketahui, karena akulah yang akan memecahkanyaa sendiri.

Apakah harus kecewa karena surat pertama tidak terbalas atau dia tidak bisa memahami kalimat-kalimatnya? Siapa yang mau membalasanya? Ataukah membuka lembaran baru dan menutup surat pertama yang tak kunjung terbalaskan.Terbalaskan tapi dengan sebuah kekecewaan?

Jangan bilang aku sedang patah hati, karena dalamnya laut bisa diukur sedangkan suasana hati tidak bisa diukur..

Kuingin menghapus surat itu untuk memulai yang baru, tapi kondinya tidak memungkinkan. Kekecewaan pasti ada, apakah harus disesali dengan surat yang pertama ku buat dengan sebuah keinginan?

Siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri? Bagaikan barisan bilangan yang tidak memiliki suku pertama dan terakhir.

Ku ingin ia muncul seperti bilangan asli, yang dimulai dari 1, 2, 3 dan seterusnya. Tapi tak sesederhana itu.

1+1=2, tidak perlu kita perdebatkan tentang aksioma cinta yang terjadi karena menjadi sebuah kebernaran yang tidak perlu bukti, tetapi memerlukan pengertian.

Tidak perlu kecewa dan menyesal tentang apa yang telah terjadi jika belum menemukan atau bertemu dengannya di barisan kerinduanmu, yang menyendiri bagaikan unsur identitas yang unik, jika sebuah kerinduan dengan berakhir sebuah kekecewaan kepada seseorang. Apa boleh buat, takdir Allah telah ditetapkan, manusia harus ridho menerimanya, bersabar dan tidak boleh bersedih hati berlarut-larut.

Maka inilah yang ku nasehatkan kepadamu, para pembaca, "Siapa yang berharap kepada manusia, pasti dia akan kecewa sedangkan siapa yang berharap kepada Allah maka dia tidak akan pernah kecewa."

Maka harapkalah perjumpaan dengan sang pujaan hati karena Allah bukan karena dirinya.

Bersambung..

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ada Cinta di Matematika Bagian 2"

Post a Comment

Komentar yang tidak baik atau menampilkan segala hal yang tidak baik, tidak akan kami setujui atau akan kami hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel